Jakarta, 24 September 2026 – Kualitas udara Jakarta pada Kamis pagi tercatat berada dalam kategori tidak sehat dan menempati posisi kelima dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Berdasarkan pemantauan IQAir pada pukul 06.15 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 156. Polutan utama yang terpantau adalah partikel halus PM2.5 dengan konsentrasi sekitar 63 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok sensitif, perlu mengurangi paparan udara luar.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber pembakaran dan pencemaran udara. Ukurannya memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup. Data IQAir pada Kamis juga menunjukkan konsentrasi PM2.5 Jakarta sekitar 12,6 kali nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia. Kondisi ini menjadi salah satu alasan masyarakat dianjurkan meningkatkan kewaspadaan ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Dalam peringkat kota dunia pada Kamis pagi, Lahore di Pakistan berada di posisi pertama dengan AQI 210. Posisi berikutnya ditempati Kuching di Malaysia dengan AQI 194 dan Kinshasa di Republik Demokratik Kongo dengan AQI 193. Delhi di India berada satu tingkat di atas Jakarta dengan indeks 160. Peringkat tersebut bersifat dinamis karena dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan pembaruan data kualitas udara secara waktu nyata.
IQAir merekomendasikan masyarakat mengurangi olahraga dan aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berada pada tingkat tidak sehat. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan juga disarankan untuk membantu mengurangi paparan partikel. Selain itu, masyarakat dapat menutup jendela ketika kualitas udara luar memburuk dan menggunakan penyaring udara apabila tersedia. Perhatian lebih diperlukan bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran.
Data pemantauan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan kondisi kualitas udara dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya. Pemantauan pada sejumlah stasiun memperlihatkan Bundaran HI mencatat PM2.5 pada indeks 106 dan masuk kategori tidak sehat. Lubang Buaya berada di angka 101, sementara Kebon Jeruk tercatat 107 dan juga masuk kategori tidak sehat. Beberapa stasiun lain, termasuk Kelapa Gading dan Jagakarsa, berada dalam kategori sedang pada saat data diperbarui.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan kualitas udara tidak selalu seragam di seluruh wilayah Jakarta. Kondisi lokal dapat dipengaruhi kepadatan lalu lintas, aktivitas di sekitar lokasi pemantauan, arah dan kecepatan angin, hingga kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat dapat memperhatikan data dari stasiun pemantauan yang paling dekat dengan lokasi aktivitasnya. Pemantauan secara berkala juga diperlukan karena tingkat pencemaran dapat berubah dalam hitungan jam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyediakan platform pemantauan yang menampilkan informasi kualitas udara secara waktu nyata dari berbagai titik. Platform tersebut juga menyediakan rekomendasi aktivitas bagi masyarakat umum maupun kelompok seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Untuk 24 September, prakiraan kualitas udara harian di kawasan Menteng tercatat berada pada kategori sedang. Informasi tersebut menunjukkan bahwa data prakiraan harian dan pengukuran waktu nyata dapat memberikan gambaran berbeda sesuai waktu serta lokasi pemantauan.
Kondisi udara Jakarta yang kembali berada pada kategori tidak sehat memperlihatkan persoalan pencemaran udara masih memerlukan perhatian. Sebelumnya pada 14 September, Jakarta bahkan sempat menempati peringkat kedua kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI 170. Kondisi yang berubah dari hari ke hari membuat pemantauan kualitas udara menjadi penting, terutama sebelum melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama di ruang terbuka.
Masyarakat dengan gangguan pernapasan, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh ketika kualitas udara memburuk. Membatasi aktivitas berat di luar ruangan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan. Informasi kualitas udara juga dapat diperiksa sebelum bepergian agar aktivitas dapat disesuaikan dengan kondisi terkini. Apabila mengalami keluhan kesehatan yang berat atau menetap setelah terpapar udara buruk, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan.
Dengan AQI mencapai 156 pada Kamis pagi, Jakarta kembali masuk jajaran kota dengan tingkat pencemaran udara tinggi secara global pada waktu pemantauan tersebut. Peringkat kelima dunia itu merupakan gambaran kondisi pada titik waktu tertentu dan dapat berubah seiring pembaruan data. Masyarakat tetap disarankan memantau perkembangan kualitas udara selama menjalankan aktivitas sehari-hari. Upaya mengurangi paparan menjadi penting selama konsentrasi PM2.5 masih berada pada tingkat yang tidak sehat.