Jakarta, 14 September 2026 – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyoroti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di sejumlah wilayah Kalimantan di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Walhi menilai perlindungan kesehatan terhadap masyarakat perlu diperkuat karena paparan partikel halus dari asap dapat memberikan dampak serius, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah jenis masker yang dibagikan pemerintah kepada masyarakat terdampak. Masker tersebut dinilai belum memiliki kemampuan filtrasi yang memadai untuk menghadapi konsentrasi partikel halus dalam kondisi pencemaran udara berat. Walhi mendorong penggunaan masker dengan kemampuan penyaringan lebih tinggi, seperti respirator berstandar KN95 atau N95, terutama bagi masyarakat yang terpaksa melakukan aktivitas di luar ruangan. Sorotan tersebut muncul bersamaan dengan tuntutan agar penanganan kabut asap tidak hanya berfokus pada respons kesehatan, tetapi juga penghentian sumber pencemaran.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Kalimantan telah memengaruhi aktivitas masyarakat dan meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan. Partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan ketika terhirup dalam konsentrasi tinggi dan berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat memicu iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan yang telah dimiliki seseorang. Masyarakat yang bekerja di luar ruangan menghadapi paparan lebih tinggi karena sulit menghindari udara tercemar selama menjalankan aktivitas sehari-hari. Risiko juga meningkat ketika kabut asap bertahan selama beberapa hari dan kualitas udara tidak segera membaik. Dalam situasi demikian, pengurangan paparan menjadi salah satu langkah penting untuk menekan kemungkinan munculnya gangguan kesehatan.
Walhi menilai pembagian masker harus mempertimbangkan karakter polutan yang berada di udara. Masker medis biasa terutama dirancang untuk membantu mengurangi paparan terhadap droplet dan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel udara dengan tingkat filtrasi tertentu. Dalam kondisi kabut asap berat, penggunaan respirator yang terpasang dengan baik pada wajah dapat memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap partikel dibandingkan masker yang longgar. Namun, efektivitas perlindungan tetap dipengaruhi ukuran masker, cara pemakaian, kondisi produk, dan seberapa rapat masker menutup bagian hidung serta mulut. Pemerintah karena itu didorong memastikan bantuan yang dibagikan sesuai dengan tingkat risiko yang sedang dihadapi masyarakat. Edukasi mengenai cara menggunakan masker dengan benar juga diperlukan agar perlindungan yang diberikan tidak berkurang akibat kesalahan penggunaan.
Meningkatnya keluhan ISPA menjadi indikator bahwa persoalan kabut asap tidak dapat dipandang hanya sebagai gangguan jarak pandang atau aktivitas sehari-hari. Dampak kesehatan dapat berlangsung lebih luas ketika masyarakat terpapar udara buruk secara terus-menerus. Puskesmas dan rumah sakit perlu mempersiapkan layanan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien dengan keluhan pernapasan. Ketersediaan obat, tenaga kesehatan, ruang pelayanan, serta sistem rujukan menjadi penting terutama di daerah dengan akses fasilitas kesehatan yang terbatas. Pemantauan juga diperlukan terhadap kelompok rentan yang dapat mengalami komplikasi lebih cepat dibandingkan masyarakat dengan kondisi kesehatan normal. Jika kualitas udara memburuk secara signifikan, pembatasan kegiatan luar ruangan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan.
Sekolah dan aktivitas anak-anak turut menjadi perhatian karena kelompok usia muda memiliki kebutuhan perlindungan khusus. Ketika kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat, aktivitas olahraga maupun kegiatan luar ruangan dapat meningkatkan jumlah udara tercemar yang masuk ke sistem pernapasan. Pemerintah daerah dapat menyesuaikan kegiatan pendidikan berdasarkan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah. Keputusan tersebut perlu didasarkan pada pemantauan yang dilakukan secara berkala karena konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, dan sumber asap. Orang tua juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi udara agar dapat menentukan aktivitas anak setelah berada di luar sekolah. Komunikasi risiko yang konsisten menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa udara sedang buruk, tetapi memahami langkah yang perlu dilakukan.
Walhi juga menekankan bahwa distribusi masker merupakan langkah perlindungan sementara dan bukan penyelesaian terhadap akar persoalan. Kabut asap di Kalimantan memiliki hubungan dengan kebakaran hutan dan lahan yang dapat terjadi pada berbagai jenis kawasan. Penanganan karena itu membutuhkan upaya pemadaman, pencegahan kebakaran baru, pengawasan kawasan rawan, serta penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Pemerintah perlu memastikan sumber asap dapat dikendalikan secepat mungkin sehingga masyarakat tidak terus menghadapi paparan dalam jangka panjang. Pengawasan terhadap konsesi perusahaan maupun lahan masyarakat juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penanganan. Pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan harus menangani dampak kesehatan dan lingkungan setelah kebakaran berkembang luas.
Kondisi cuaca turut menentukan tingkat kesulitan penanganan kebakaran lahan. Pada periode kering, vegetasi dan lapisan tanah tertentu dapat kehilangan kelembapan sehingga api lebih mudah menyebar. Kebakaran pada lahan gambut menjadi tantangan khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya. Asap yang dihasilkan kemudian dapat terbawa angin menuju kawasan permukiman yang berada jauh dari titik kebakaran. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa masyarakat dapat mengalami penurunan kualitas udara meskipun tidak melihat kebakaran secara langsung di sekitar tempat tinggalnya. Pemantauan titik panas perlu diikuti pemeriksaan lapangan agar pemerintah mengetahui lokasi kebakaran dan menentukan prioritas penanganan.
Selain respons terhadap kebakaran, kesiapan jangka panjang membutuhkan pengelolaan bentang alam yang mampu mengurangi risiko kejadian berulang. Kawasan gambut perlu dipertahankan dalam kondisi yang tidak terlalu kering karena penurunan muka air dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Pemerintah daerah, masyarakat, dan pemegang konsesi memiliki tanggung jawab sesuai kewenangan masing-masing dalam menjaga kawasan rawan. Sistem peringatan dini dapat digunakan untuk mendeteksi peningkatan risiko sebelum kebakaran berkembang menjadi kejadian besar. Petugas dan peralatan pemadaman juga perlu ditempatkan lebih dekat dengan wilayah yang memiliki riwayat kebakaran tinggi. Dengan respons yang cepat, luas lahan terbakar dan volume asap yang dihasilkan dapat ditekan.
Dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan kesehatan karena aktivitas ekonomi dan transportasi juga dapat terganggu ketika jarak pandang menurun. Penerbangan, perjalanan darat, kegiatan perdagangan, pekerjaan luar ruangan, hingga produktivitas masyarakat dapat mengalami tekanan apabila kondisi berlangsung lama. Rumah tangga juga dapat menghadapi pengeluaran tambahan untuk memperoleh masker yang lebih baik, obat-obatan, maupun perangkat untuk menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Bagi keluarga berpendapatan rendah, kebutuhan tambahan tersebut dapat menjadi beban yang cukup besar. Karena itu, distribusi perlindungan yang sesuai standar menjadi penting agar kemampuan menjaga kesehatan tidak bergantung sepenuhnya pada daya beli masyarakat. Pemerintah perlu memastikan kelompok paling rentan memperoleh prioritas ketika ketersediaan perlengkapan masih terbatas.
Sorotan Walhi terhadap maraknya ISPA dan kualitas masker yang dibagikan pemerintah menjadi pengingat bahwa penanganan kabut asap membutuhkan pendekatan kesehatan sekaligus lingkungan. Masyarakat membutuhkan perlindungan yang sesuai dengan karakter pencemaran udara, informasi kualitas udara yang mudah dipahami, serta layanan kesehatan yang siap menghadapi peningkatan keluhan pernapasan. Pada saat bersamaan, sumber asap harus ditangani agar distribusi masker tidak menjadi respons yang terus berulang setiap kali kebakaran terjadi. Penguatan pencegahan kebakaran, pengawasan lahan, penegakan aturan, serta perlindungan kawasan rentan menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Pemerintah daerah juga perlu terus memantau perkembangan kasus ISPA untuk menentukan apakah diperlukan langkah tambahan terhadap aktivitas masyarakat. Selama kualitas udara belum kembali aman, pengurangan aktivitas luar ruangan dan penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai tetap menjadi bagian penting dalam menekan risiko kesehatan bagi masyarakat Kalimantan.