Jakarta, 12 September 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan operasi modifikasi cuaca terus digencarkan sebagai salah satu langkah pemerintah menghadapi kondisi lingkungan dan cuaca di Ibu Kota. Namun, pelaksanaannya menghadapi kendala karena jumlah awan potensial yang dapat menjadi sasaran penyemaian disebut hampir tidak tersedia. Kondisi tersebut membuat operasi tidak selalu dapat dilakukan meskipun pesawat, personel, dan kebutuhan teknis lainnya telah disiapkan. Pramono menjelaskan keberadaan awan menjadi faktor utama karena teknologi modifikasi cuaca tidak dapat menciptakan hujan dari langit yang benar-benar tanpa awan. Pemerintah DKI karena itu terus memantau perkembangan atmosfer untuk mencari kesempatan ketika awan potensial mulai terbentuk. Operasi akan dilakukan ketika kondisi dinilai memungkinkan agar intervensi memberikan hasil yang lebih optimal.
Teknologi modifikasi cuaca bekerja dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang sudah memiliki potensi pembentukan hujan. Bahan semai disebarkan ke awan dengan karakteristik tertentu untuk membantu mempercepat proses terbentuknya butiran air. Karena itu, ketersediaan awan dengan kandungan uap air yang memadai menjadi syarat penting sebelum operasi dilakukan. Apabila atmosfer relatif kering dan awan potensial sangat sedikit, penyemaian tidak dapat dipaksakan. Kondisi inilah yang menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan operasi di sekitar Jakarta. Intensitas persiapan pemerintah dengan demikian tidak selalu berarti penerbangan penyemaian dapat dilakukan setiap saat.
Pramono mengatakan pemerintah tetap menyiagakan seluruh unsur yang terlibat agar operasi dapat segera dilakukan ketika kondisi atmosfer berubah. Pemantauan dilakukan secara berkala terhadap pertumbuhan awan di Jakarta maupun wilayah sekitarnya. Arah dan kecepatan angin juga menjadi perhatian karena menentukan pergerakan awan setelah terbentuk. Ketika ditemukan awan yang memenuhi persyaratan, tim dapat menentukan lokasi serta waktu penyemaian berdasarkan kebutuhan. Keputusan tersebut harus dilakukan dengan cepat karena karakter awan dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Fleksibilitas operasional menjadi penting agar peluang yang tersedia tidak terlewat.
Pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan dukungan data meteorologi yang akurat. Informasi dari radar cuaca, satelit, pengamatan permukaan, dan pemodelan atmosfer digunakan untuk membaca perkembangan kondisi di lapangan. Petugas kemudian menganalisis kelembapan, temperatur, arah angin, serta karakter awan sebelum menentukan tindakan. Tidak semua awan dapat menjadi sasaran karena terdapat persyaratan teknis tertentu agar proses penyemaian memiliki peluang memberikan dampak. Evaluasi juga dilakukan setelah operasi untuk mengetahui perkembangan awan dan kondisi hujan. Data tersebut kemudian menjadi bahan untuk menentukan strategi pada penerbangan berikutnya.
Minimnya awan juga menunjukkan adanya keterbatasan yang melekat pada teknologi modifikasi cuaca. Masyarakat tidak dapat menganggap teknologi tersebut sebagai alat yang mampu mengendalikan cuaca sepenuhnya. Pemerintah dapat melakukan intervensi terhadap proses atmosfer dalam kondisi tertentu, tetapi faktor alam tetap menjadi penentu utama. Apabila kelembapan rendah dan pembentukan awan tidak terjadi, ruang intervensi menjadi sangat terbatas. Karena itu, keberhasilan operasi tidak dapat hanya diukur berdasarkan jumlah pesawat atau bahan semai yang disiapkan. Kondisi atmosfer pada saat pelaksanaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil.
Penggunaan modifikasi cuaca juga harus ditempatkan bersama berbagai kebijakan lain yang dijalankan Pemerintah DKI Jakarta. Apabila salah satu tujuannya berkaitan dengan perbaikan kualitas udara, turunnya hujan dapat membantu mengendapkan sebagian partikel yang berada di atmosfer. Namun, efek tersebut cenderung bersifat sementara apabila sumber pencemaran tidak dikendalikan. Emisi kendaraan, aktivitas industri, konstruksi, dan sumber pembakaran lainnya tetap perlu mendapatkan pengawasan. Penguatan transportasi umum serta pengendalian emisi menjadi bagian dari solusi yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, modifikasi cuaca berfungsi sebagai instrumen pendukung dan bukan pengganti kebijakan pengendalian pencemaran.
Kondisi atmosfer di Jakarta juga berkaitan erat dengan wilayah penyangga karena cuaca tidak mengikuti batas administratif. Awan yang terbentuk di kawasan sekitar dapat bergerak menuju atau menjauhi Jakarta mengikuti pola angin. Karena itu, koordinasi dan pemantauan tidak dapat hanya dilakukan terhadap wilayah administratif DKI. Perubahan kondisi di Banten dan Jawa Barat dapat memengaruhi peluang terbentuknya hujan di kawasan metropolitan. Pendekatan regional diperlukan untuk memahami dinamika atmosfer secara lebih menyeluruh. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan lokasi penyemaian yang memiliki peluang paling efektif.
Pemerintah juga perlu memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dalam setiap operasi. Penerbangan, bahan semai, personel, dan dukungan logistik membutuhkan biaya sehingga pelaksanaannya harus didasarkan pada analisis teknis. Melakukan penerbangan ketika hampir tidak terdapat awan potensial dapat menghasilkan manfaat yang sangat terbatas. Karena itu, kesiagaan tidak berarti seluruh sarana harus selalu diterbangkan. Tim dapat menunggu hingga indikator meteorologi menunjukkan peluang yang lebih baik. Pendekatan tersebut membantu memastikan sumber daya digunakan pada waktu yang memiliki kemungkinan keberhasilan lebih tinggi.
Pramono meminta masyarakat memahami bahwa minimnya awan merupakan kondisi alam yang tidak dapat diatasi hanya dengan meningkatkan intensitas operasi. Pemerintah tetap berupaya menggunakan teknologi yang tersedia, tetapi pelaksanaan harus mengikuti kondisi aktual atmosfer. Komunikasi mengenai keterbatasan tersebut diperlukan agar tidak muncul anggapan bahwa hujan dapat dibuat kapan saja sesuai kebutuhan. Teknologi modifikasi cuaca memiliki fungsi untuk memengaruhi proses yang sudah tersedia secara alami, bukan menggantikan keseluruhan mekanisme pembentukan hujan. Pemantauan karena itu menjadi tahapan yang sama pentingnya dengan proses penyemaian. Ketika peluang muncul, tim dapat segera bergerak berdasarkan data yang telah dianalisis.
Pernyataan Pramono mengenai modifikasi cuaca yang terus digencarkan tetapi terkendala hampir tidak adanya awan memperlihatkan tantangan teknis yang dihadapi pemerintah di lapangan. Seluruh sarana dapat dipersiapkan, tetapi keberhasilan operasi tetap bergantung pada terbentuknya awan yang memenuhi persyaratan. Pemerintah DKI akan terus memantau perkembangan atmosfer dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menentukan waktu terbaik melakukan penyemaian. Pada saat yang sama, kebijakan lain untuk menangani persoalan lingkungan dan meningkatkan ketahanan kota tetap harus berjalan. Modifikasi cuaca tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi karena kemampuannya sangat dipengaruhi kondisi alam. Pemerintah berharap peluang pembentukan awan meningkat sehingga operasi dapat kembali dilakukan secara lebih efektif sesuai kebutuhan.