New York, 29 September 2026 – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendorong seluruh pihak terkait untuk mempertahankan jalur diplomasi dalam menyelesaikan krisis yang masih berlangsung di Timur Tengah. Seruan tersebut disampaikan setelah Guterres bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin (28/9). Dalam pertemuan itu, keduanya bertukar pandangan mengenai konflik dan perkembangan diplomatik di kawasan. Guterres menilai perundingan perlu dilanjutkan untuk menjembatani perbedaan yang masih ada dan membuka jalan menuju perdamaian.
Guterres menyambut berbagai upaya diplomatik yang berlangsung selama Pekan Tingkat Tinggi Sidang Umum PBB di New York. Ia meminta pihak-pihak yang terlibat tidak menghentikan komunikasi meskipun masih terdapat sejumlah persoalan yang belum mencapai kesepakatan. Menurut pernyataan kantornya, penyelesaian perbedaan melalui perundingan menjadi langkah yang perlu dipertahankan. PBB juga kembali menempatkan dialog sebagai instrumen utama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pertemuan Guterres dan Araghchi berlangsung di tengah upaya mencari penyelesaian terhadap konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, pada 25 September, Araghchi mengatakan Iran telah menyerahkan proposal mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz kepada pihak Amerika Serikat. Proposal tersebut mencakup rencana tujuh hari dengan sejumlah ketentuan yang diajukan Teheran. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan menolak proposal tersebut, sementara Iran mengatakan masih menunggu respons final melalui mediator.
Guterres sebelumnya juga bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 25 September. Dalam pertemuan tersebut, Sekjen PBB menekankan kebutuhan untuk menyelesaikan konflik melalui dialog dan perundingan dengan tetap menghormati hukum internasional. Pembahasan turut mencakup hak serta kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz. PBB menyatakan tetap siap mendukung berbagai upaya diplomatik yang diarahkan pada penyelesaian konflik.
Ketegangan di kawasan telah berlangsung sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026 yang kemudian dibalas Teheran. Iran dan Amerika Serikat sempat mencapai memorandum penghentian permusuhan pada pertengahan Juni, tetapi serangan kembali terjadi setelahnya. PBB berulang kali menyerukan agar semua pihak menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang dapat menutup ruang diplomasi. Organisasi tersebut juga memperingatkan bahwa eskalasi baru dapat membawa konsekuensi luas bagi keamanan regional dan perekonomian global.
Krisis Timur Tengah pada saat yang sama mencakup sejumlah persoalan lain, termasuk situasi di Gaza dan Tepi Barat. Dalam pertemuan Dewan Keamanan pada 28 September, perhatian kembali diarahkan pada kekerasan pemukim dan perluasan permukiman di Tepi Barat serta pelaksanaan rencana perdamaian Gaza yang belum sepenuhnya berjalan. PBB terus mendorong penyelesaian politik dan menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Situasi tersebut membuat diplomasi regional menjadi salah satu fokus utama dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi PBB.
PBB menilai keberlanjutan komunikasi menjadi penting agar perbedaan yang masih tersisa tidak berkembang menjadi eskalasi militer baru. Guterres meminta pihak-pihak terkait menggunakan momentum diplomatik untuk mencari kesepakatan yang dapat diterima dan memberikan stabilitas jangka panjang bagi kawasan. Upaya mediasi dari sejumlah negara juga dipandang memiliki peran dalam mempertahankan ruang perundingan. PBB menegaskan akan terus mendukung langkah diplomatik yang bertujuan mencegah konflik meluas serta mendorong penyelesaian damai di Timur Tengah.