Jakarta, 4 Oktober 2026 – Iran semakin serius membahas kemungkinan menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir negara tersebut. Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mengatakan rancangan untuk keluar dari NPT sedang diperiksa oleh komite terkait di parlemen. Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi bahwa Teheran akan meninggalkan perjanjian tersebut.
Pembahasan itu menguat setelah sejumlah anggota parlemen mendorong rancangan dengan status urgensi tinggi agar dapat segera dibawa ke persidangan. Nikzad menyatakan parlemen juga akan mempertimbangkan konsekuensi internasional dari langkah tersebut sebelum mengambil keputusan. Perdebatan mengenai keanggotaan Iran dalam NPT telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir seiring memburuknya hubungan Teheran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Pemerintah Iran mempertanyakan manfaat keanggotaannya setelah fasilitas nuklir negara itu mengalami serangan dan program nuklirnya terus menghadapi tekanan internasional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan negaranya telah menjadi anggota NPT sejak 1970 dan tetap memahami kewajiban yang menyertai keanggotaan tersebut. Namun, Teheran menilai negara anggota juga seharusnya dapat memperoleh hak dan manfaat yang dijamin perjanjian.
Meski pembicaraan mengenai penarikan diri semakin terbuka, pandangan di dalam pemerintahan dan parlemen Iran belum sepenuhnya seragam. Seorang anggota Komite Keamanan Nasional parlemen, Mohammad Mehdi Shahriari, sebelumnya meragukan proposal tersebut akan memperoleh dukungan mayoritas. Ia memperingatkan bahwa keluar dari NPT dapat meningkatkan tekanan dan biaya politik bagi Iran di tengah situasi keamanan yang sudah tegang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya juga menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pembahasan keluar dari NPT belum dapat disamakan dengan keputusan Iran untuk membuat senjata nuklir. Untuk saat ini, Iran masih tercatat sebagai anggota NPT dan tetap terikat dengan kewajiban yang berlaku berdasarkan perjanjian tersebut.
Perdebatan di Teheran turut mendapat perhatian Rusia. Kremlin menyatakan tidak menginginkan Iran keluar dari NPT karena perjanjian tersebut dipandang sebagai salah satu fondasi utama sistem internasional untuk mencegah penyebaran senjata nuklir. Moskow berharap Iran tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam perjanjian tersebut, sembari menilai pernyataan mengenai kemungkinan penarikan diri masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Keputusan Iran mengenai NPT berpotensi membawa konsekuensi besar terhadap diplomasi nuklir dan hubungan Teheran dengan komunitas internasional. Pembahasan di parlemen menunjukkan opsi penarikan diri kini menjadi bagian nyata dari perdebatan politik domestik, tetapi proses tersebut masih berada pada tahap pengkajian. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan lembaga-lembaga Iran serta dinamika hubungan Teheran dengan IAEA dan negara-negara yang terlibat dalam diplomasi nuklir.