Jakarta, 3 September 2026 – PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports memproyeksikan jumlah penumpang pesawat yang dilayani sepanjang 2026 berada pada kisaran 150 juta hingga 159 juta orang. Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi setelah mengikuti Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis. Hingga semester pertama 2026, jumlah penumpang yang tercatat melalui bandara-bandara yang dikelola perusahaan mencapai sekitar 74 juta orang. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 76 juta penumpang. Penurunan terutama terjadi pada penerbangan domestik, sementara pergerakan penumpang internasional menunjukkan kondisi yang relatif lebih stabil. Perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini dengan mempertimbangkan dinamika perjalanan masyarakat, konektivitas penerbangan, dan berbagai periode libur yang berpotensi meningkatkan mobilitas udara.
Berdasarkan catatan semester I 2026, jumlah penumpang domestik mencapai sekitar 54 juta orang, turun sekitar 2 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 56 juta orang. Sementara itu, penumpang penerbangan internasional tercatat sekitar 20 juta orang dan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan tren tersebut menjadi salah satu perhatian InJourney Airports dalam membaca perkembangan industri penerbangan nasional sepanjang tahun ini. Pasar domestik selama ini memiliki kontribusi besar terhadap keseluruhan lalu lintas penumpang di jaringan bandara perusahaan sehingga perubahan permintaan pada rute dalam negeri dapat memberikan dampak signifikan terhadap total trafik. Di sisi lain, stabilitas perjalanan internasional menunjukkan konektivitas Indonesia dengan berbagai negara masih memiliki permintaan yang cukup kuat. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi pengelola bandara dan maskapai untuk terus memperkuat jaringan penerbangan internasional sembari mendorong pemulihan trafik domestik.
Meskipun jumlah penumpang mengalami penurunan pada semester pertama, pergerakan pesawat justru menunjukkan peningkatan. InJourney Airports mencatat sekitar 577 ribu pergerakan pesawat pada semester I 2026, naik sekitar 1 persen dibandingkan 571 ribu pergerakan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penerbangan domestik meningkat dari sekitar 450 ribu menjadi 453 ribu pergerakan pesawat, sedangkan penerbangan internasional bertambah dari sekitar 121 ribu menjadi 124 ribu pergerakan. Data tersebut memperlihatkan aktivitas penerbangan tetap tumbuh meskipun jumlah penumpang secara keseluruhan sedikit lebih rendah. Perbedaan antara pertumbuhan pergerakan pesawat dan jumlah penumpang dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kapasitas armada, tingkat keterisian kursi, pola perjalanan, serta perubahan jaringan penerbangan. Situasi ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi perkembangan industri penerbangan hingga akhir tahun.
Kondisi geopolitik global turut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan InJourney Airports dalam melihat perkembangan lalu lintas penerbangan. Ketegangan di sejumlah kawasan dapat memengaruhi rute internasional, jadwal penerbangan, biaya operasional, hingga keputusan masyarakat dalam melakukan perjalanan. Dampaknya dapat meluas karena maskapai harus melakukan penyesuaian rute apabila terdapat wilayah udara yang harus dihindari atau kondisi keamanan yang berubah. Perubahan jalur penerbangan juga berpotensi menambah waktu perjalanan dan kebutuhan bahan bakar sehingga berpengaruh terhadap biaya operasional. Bagi pengelola bandara, dinamika tersebut membutuhkan koordinasi yang erat dengan maskapai dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kegiatan operasional tetap berjalan. Ketidakpastian geopolitik karena itu menjadi salah satu variabel yang dapat memengaruhi pencapaian proyeksi penumpang hingga penghujung 2026.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga avtur turut menjadi perhatian karena bahan bakar merupakan salah satu komponen utama biaya operasional maskapai. Rata-rata harga avtur nasional per 1 September 2026 tercatat sekitar Rp23.315 per liter atau meningkat sekitar 6,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Perubahan tersebut mendorong penyesuaian batas maksimal biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge untuk penerbangan domestik berjadwal. Batas maksimal fuel surcharge untuk tarif penumpang kelas ekonomi kemudian dapat diterapkan hingga 40 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan, meningkat dari ketentuan sebelumnya yang maksimal 30 persen. Penyesuaian tersebut berpotensi memberikan dampak berbeda pada setiap rute karena struktur biaya dan karakteristik pasar penerbangan tidak selalu sama. InJourney Airports melihat perkembangan biaya perjalanan menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi permintaan masyarakat terhadap transportasi udara.
Pencapaian target 150 juta hingga 159 juta penumpang akan sangat bergantung pada perkembangan trafik selama semester kedua. Dengan realisasi sekitar 74 juta penumpang hingga akhir semester pertama, dibutuhkan puluhan juta pergerakan tambahan untuk mencapai kisaran proyeksi tahunan tersebut. Sejumlah momentum perjalanan dapat memberikan kontribusi, termasuk periode libur sekolah, perjalanan bisnis, kegiatan pariwisata, serta libur akhir tahun. Pembukaan dan penguatan rute penerbangan juga berpotensi menambah pilihan perjalanan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan konektivitas antardaerah. InJourney Airports perlu memastikan kapasitas bandara mampu mengikuti perubahan trafik apabila terjadi peningkatan penumpang dalam waktu tertentu. Kesiapan fasilitas, personel, sistem operasional, keamanan, dan pelayanan menjadi unsur penting agar pertumbuhan trafik dapat ditangani tanpa mengurangi kualitas layanan.
Kinerja pada awal 2026 sebelumnya sempat memperlihatkan pertumbuhan cukup kuat. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, sebanyak 38,20 juta penumpang tercatat melalui 37 bandara yang dikelola InJourney Airports, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan 36,38 juta penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 28,38 juta merupakan penumpang domestik dan sekitar 9,82 juta merupakan penumpang internasional. Pergerakan pesawat pada periode tersebut juga tumbuh dari sekitar 275 ribu menjadi hampir 300 ribu penerbangan. Tingginya mobilitas pada awal tahun antara lain berkaitan dengan berbagai periode perjalanan masyarakat dan momentum libur panjang. Namun perkembangan semester pertama menunjukkan dinamika trafik dapat berubah sehingga pengelola bandara tetap perlu menyesuaikan strategi operasional berdasarkan kondisi terbaru.
Peningkatan trafik penerbangan juga perlu dibarengi pengembangan konektivitas antardaerah dan internasional. Pembukaan rute baru dapat memberikan pilihan tambahan kepada masyarakat sekaligus membantu memperluas akses menuju destinasi pariwisata dan pusat kegiatan ekonomi. Bandara memiliki posisi strategis karena menjadi simpul yang menghubungkan transportasi udara dengan berbagai aktivitas perdagangan, investasi, dan perjalanan masyarakat. Pertumbuhan penumpang karena itu tidak hanya berdampak terhadap sektor penerbangan, tetapi juga dapat memberikan efek lanjutan kepada hotel, restoran, transportasi darat, destinasi wisata, serta berbagai kegiatan ekonomi di sekitar bandara. Peningkatan konektivitas internasional juga dapat memperkuat akses wisatawan asing menuju berbagai daerah di Indonesia. Dengan jaringan penerbangan yang semakin luas, manfaat pertumbuhan industri aviasi berpotensi tersebar ke lebih banyak wilayah.
Dari sisi operasional, InJourney Airports menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan di 37 bandara yang dikelolanya. Pertumbuhan trafik pada periode tertentu dapat menyebabkan peningkatan kepadatan pada terminal, pemeriksaan keamanan, pengambilan bagasi, serta akses kendaraan menuju dan dari bandara. Pengelola karena itu membutuhkan perencanaan berdasarkan proyeksi jumlah penumpang agar fasilitas dapat digunakan secara optimal. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian penting untuk mempercepat proses pelayanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Koordinasi dengan maskapai diperlukan dalam pengaturan slot penerbangan, terutama pada bandara dengan tingkat kepadatan tinggi. Kesiapan tersebut akan semakin penting apabila jumlah penumpang pada semester kedua meningkat sesuai kebutuhan untuk mencapai proyeksi tahunan.
Proyeksi 150 juta hingga 159 juta penumpang sepanjang 2026 menunjukkan industri penerbangan Indonesia tetap memiliki skala mobilitas yang sangat besar meskipun menghadapi tekanan pada pasar domestik. Realisasi 74 juta penumpang selama semester pertama menjadi dasar bagi InJourney Airports untuk memantau kebutuhan kapasitas sekaligus mengevaluasi perkembangan permintaan hingga akhir tahun. Pertumbuhan penerbangan internasional, pembukaan rute, periode liburan, serta pemulihan perjalanan domestik dapat menjadi faktor pendorong, sementara kenaikan harga avtur dan ketidakpastian geopolitik berpotensi menjadi tantangan. Kemampuan pengelola bandara dan maskapai menjaga konektivitas, keterjangkauan, serta kualitas pelayanan akan turut menentukan perkembangan trafik dalam beberapa bulan mendatang. Perusahaan juga perlu memastikan pertumbuhan jumlah penerbangan tetap diikuti standar keselamatan dan pelayanan yang konsisten. Dengan berbagai dinamika tersebut, pencapaian batas atas proyeksi 159 juta penumpang akan sangat ditentukan oleh perkembangan mobilitas masyarakat dan kondisi industri penerbangan selama sisa 2026.