Jakarta, 13 September 2026 – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyoroti pentingnya generasi Z mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin yang mampu menghadapi perubahan zaman dengan cepat. Menurutnya, kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik atau kemampuan memahami teknologi, tetapi juga membutuhkan karakter yang kuat, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mengambil keputusan. Generasi muda saat ini tumbuh di tengah perkembangan digital yang sangat cepat dan memiliki akses terhadap informasi jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru yang menuntut kemampuan menyaring informasi secara kritis. Bima Arya menilai Gen Z harus mampu memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa kehilangan nilai integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Bekal tersebut menjadi penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengikut perubahan, melainkan mampu mengambil peran sebagai pemimpin yang menentukan arah perubahan.
Bima Arya menilai dunia yang akan dihadapi generasi muda semakin sulit diprediksi karena perubahan dapat terjadi dalam waktu sangat singkat. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan, transformasi ekonomi, perubahan pola kerja, hingga persoalan lingkungan membuat tantangan kepemimpinan menjadi semakin kompleks. Pemimpin masa depan harus mempunyai kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan meskipun tidak selalu memiliki informasi yang sempurna. Kemampuan beradaptasi karena itu menjadi salah satu modal yang perlu dilatih sejak usia muda. Gen Z tidak seharusnya hanya menguasai satu keterampilan, tetapi juga perlu terbuka terhadap pengetahuan baru yang terus berkembang. Sikap mau belajar dan kemampuan memperbarui kompetensi akan membantu mereka tetap relevan ketika perubahan terjadi. Pada saat yang sama, kemampuan tersebut harus dibarengi dengan prinsip yang kuat agar proses adaptasi tidak membuat seseorang kehilangan arah.
Karakter menjadi aspek lain yang dinilai menentukan kualitas seorang pemimpin. Bima Arya mengingatkan bahwa kemampuan intelektual yang tinggi belum tentu menghasilkan kepemimpinan yang baik apabila tidak dibarengi integritas. Seorang pemimpin harus dapat dipercaya, bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, dan mempunyai keberanian mempertahankan prinsip ketika menghadapi tekanan. Nilai tersebut perlu dibangun melalui pengalaman sehari-hari dan bukan hanya dipelajari melalui teori. Generasi muda dapat mulai melatih kepemimpinan dari lingkungan sekolah, kampus, organisasi, komunitas maupun kegiatan sosial. Pengalaman bekerja bersama orang lain akan memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab, komunikasi dan penyelesaian perbedaan pendapat. Dari proses tersebut, seseorang dapat belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya persoalan posisi, tetapi kemampuan memberikan pengaruh positif kepada lingkungan.
Kemampuan berkomunikasi juga menjadi bekal penting bagi Gen Z yang ingin mengambil peran kepemimpinan pada masa mendatang. Era digital memang membuat komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, tetapi kecepatan tersebut tidak selalu menghasilkan pemahaman yang baik. Pemimpin membutuhkan kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas sekaligus mendengarkan pandangan orang lain. Kemampuan berdialog menjadi semakin penting ketika masyarakat memiliki latar belakang, pengalaman dan kepentingan yang berbeda. Generasi muda perlu belajar menghadapi perbedaan tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk menciptakan konflik yang tidak produktif. Kemampuan membangun kolaborasi dapat membuat berbagai gagasan yang berbeda diarahkan menuju tujuan bersama. Kepemimpinan yang efektif pada akhirnya membutuhkan komunikasi dua arah, bukan hanya kemampuan memberikan instruksi.
Bima Arya juga melihat perkembangan teknologi sebagai peluang besar bagi generasi muda Indonesia. Gen Z merupakan kelompok yang relatif dekat dengan internet, media sosial dan berbagai perangkat digital sejak usia muda. Keunggulan tersebut dapat membantu mereka bekerja lebih cepat, membangun jaringan lebih luas dan memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber. Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat yang membantu manusia mengambil keputusan, bukan menggantikan sepenuhnya kemampuan berpikir kritis. Informasi yang beredar melalui ruang digital tidak semuanya akurat sehingga kemampuan melakukan verifikasi menjadi semakin diperlukan. Generasi muda juga perlu memahami konsekuensi dari jejak digital karena apa yang disampaikan melalui internet dapat memengaruhi reputasi dalam jangka panjang. Literasi digital yang matang menjadi bagian penting dari kualitas kepemimpinan di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi.
Selain kemampuan teknologi, kepedulian terhadap persoalan masyarakat menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan. Pemimpin perlu memahami bahwa setiap kebijakan atau keputusan dapat memberikan dampak berbeda kepada kelompok masyarakat. Karena itu, kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan orang lain perlu dikembangkan sejak dini. Gen Z memiliki peluang besar untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, komunitas, kewirausahaan, pendidikan maupun aktivitas lingkungan yang dapat memberikan pengalaman langsung menghadapi persoalan nyata. Pengalaman semacam itu dapat membantu membangun empati sekaligus memperluas cara pandang terhadap kehidupan masyarakat. Kepemimpinan yang hanya berorientasi pada pencapaian pribadi akan sulit menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Sebaliknya, pemimpin yang memahami persoalan masyarakat akan memiliki dasar lebih kuat dalam menentukan prioritas.
Keberanian menghadapi kegagalan juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan pemimpin muda. Perjalanan menuju kepemimpinan tidak selalu berjalan sesuai rencana dan seseorang dapat menghadapi penolakan, kesalahan maupun kegagalan dalam berbagai kesempatan. Kondisi tersebut seharusnya menjadi ruang pembelajaran untuk memperbaiki kemampuan dan strategi. Generasi muda perlu membangun ketahanan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan atau kritik. Pada saat yang sama, keberanian mengakui kesalahan merupakan bagian dari integritas yang perlu dimiliki seorang pemimpin. Kesalahan yang dievaluasi secara terbuka dapat menghasilkan pengalaman berharga untuk menghadapi persoalan serupa pada masa berikutnya. Kemampuan bangkit dan belajar dari kegagalan pada akhirnya dapat membentuk pemimpin yang lebih matang dalam menghadapi situasi sulit.
Tantangan lain yang dihadapi Gen Z adalah derasnya arus informasi dan opini melalui media sosial. Berbagai persoalan dapat menjadi viral dalam waktu singkat dan mendorong masyarakat memberikan respons sebelum seluruh informasi tersedia. Dalam kondisi tersebut, calon pemimpin perlu mempunyai kemampuan mengendalikan diri dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan tekanan sesaat. Pemikiran kritis diperlukan untuk memisahkan fakta, opini, asumsi dan informasi yang belum terverifikasi. Pemimpin juga harus mampu melihat persoalan dari berbagai sudut sebelum menentukan tindakan. Kebiasaan membaca, berdiskusi dan memperluas wawasan dapat membantu generasi muda membangun kemampuan tersebut. Semakin luas perspektif seseorang, semakin besar kemampuannya memahami bahwa persoalan kompleks biasanya tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pendekatan.
Bima Arya mendorong generasi muda tidak menunggu mendapatkan jabatan formal untuk mulai belajar menjadi pemimpin. Kepemimpinan dapat dimulai melalui tindakan sederhana seperti bertanggung jawab terhadap pekerjaan, menepati komitmen, membantu menyelesaikan persoalan kelompok dan berani menyampaikan gagasan secara konstruktif. Pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi sebelum seseorang mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Organisasi sekolah, kampus, komunitas hingga kegiatan kewirausahaan dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan mengelola tim dan mengambil keputusan. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin besar kesempatan seseorang mengenali kekuatan dan kelemahannya sendiri. Proses tersebut juga membantu generasi muda memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan konsistensi dan tidak terbentuk secara instan.
Generasi Z pada akhirnya memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari kepemimpinan Indonesia pada masa mendatang. Kemampuan menguasai teknologi memberikan keunggulan, tetapi tetap harus diperkuat dengan integritas, kemampuan beradaptasi, komunikasi, empati, daya tahan dan kemauan terus belajar. Perubahan zaman akan terus menghadirkan persoalan baru yang mungkin berbeda dari tantangan yang dihadapi generasi sebelumnya. Karena itu, kualitas pemimpin masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan nilai dan tujuan. Bima Arya menilai persiapan tersebut perlu dimulai sejak sekarang melalui pendidikan, pengalaman organisasi dan keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat. Dengan fondasi karakter yang kuat serta keterampilan yang terus berkembang, Gen Z diharapkan mampu mengambil tanggung jawab lebih besar dan menghadirkan kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia pada masa depan.