Teheran, 20 Agustus 2026 – Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara Teluk agar tidak memberikan bantuan atau fasilitas kepada militer Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi mengatakan bantuan apa pun yang diberikan kepada pasukan Amerika Serikat dapat dianggap sebagai bentuk keterlibatan dalam operasi militer Washington. Peringatan tersebut disampaikan ketika aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk masih menjadi perhatian Tehran. Iran juga menyoroti keberadaan sejumlah pesawat militer, termasuk pesawat pengisi bahan bakar, di pangkalan-pangkalan regional.
Peringatan Tehran tersebut terutama ditujukan kepada negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Kawasan Teluk selama ini menjadi salah satu pusat penting bagi operasi militer Washington di Timur Tengah karena terdapat berbagai fasilitas militer dan pangkalan udara yang dapat mendukung pengerahan pasukan. Iran menilai keberadaan aset militer Amerika Serikat di kawasan tidak dapat dipisahkan dari konflik yang sedang berlangsung. Karena itu, Tehran memperingatkan negara yang menyediakan fasilitas, akses, maupun dukungan kepada militer Amerika Serikat agar mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan tersebut.
Abdollahi juga mempertanyakan bagaimana sejumlah pesawat militer Amerika Serikat dapat berada di pangkalan kawasan tanpa diketahui oleh negara tempat pangkalan tersebut berada. Menurutnya, keberadaan pesawat dalam jumlah besar, khususnya pesawat tanker yang digunakan untuk pengisian bahan bakar di udara, menunjukkan adanya aktivitas militer yang tidak mungkin sepenuhnya tidak diketahui pemerintah negara setempat. Iran kemudian menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Tehran berusaha memberikan tekanan kepada negara-negara Teluk agar tidak memberikan ruang bagi Washington untuk menggunakan wilayah mereka dalam operasi terhadap Iran.
Situasi tersebut menjadi semakin sensitif setelah Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian hubungan ekonomi dan keuangan dengan Iran. Keputusan Abu Dhabi muncul setelah adanya ketegangan baru terkait serangan rudal yang menurut pemerintah UEA berasal dari Iran dan menyasar kapal-kapal di sekitar wilayah perairannya. Iran sendiri membantah bertanggung jawab atas peluncuran rudal tersebut. Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap hubungan Iran dengan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk yang selama konflik berusaha menghindari keterlibatan langsung.
Peringatan Iran juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi Selat Hormuz yang masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik. Jalur laut tersebut memiliki peranan sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama bagi kapal yang membawa minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap pasokan energi, biaya pengiriman, dan harga minyak global. Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas militer dan serangan terhadap kapal komersial membuat perusahaan pelayaran harus menghadapi risiko yang semakin besar. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi kawasan.
Iran sebelumnya telah memberikan peringatan bahwa negara yang membantu serangan Amerika Serikat terhadap wilayahnya dapat dianggap sebagai pihak yang ikut berperang. Ancaman tersebut menjadi semakin serius karena beberapa negara Teluk memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Washington. Amerika Serikat memiliki fasilitas militer dan kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan, sehingga garis antara dukungan pertahanan dan keterlibatan dalam operasi ofensif menjadi isu yang sangat sensitif. Negara-negara Teluk harus menghadapi dilema antara mempertahankan hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan menghindari eskalasi langsung dengan Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui pendekatan ekonomi. Presiden Donald Trump pada Kamis memperingatkan negara-negara yang membantu Iran bahwa mereka dapat menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat. Washington berusaha menekan kemampuan Iran memperoleh pemasukan dari perdagangan energi dan membatasi jaringan keuangan yang dianggap membantu Tehran. Tekanan tersebut berlangsung ketika pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kondisi tidak pasti. Trump sebelumnya menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung, sementara sejumlah pihak lain menyebut jalur komunikasi masih terbuka.
Ketegangan tersebut membuat posisi negara-negara Teluk menjadi semakin sulit. Mereka harus menjaga hubungan keamanan dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama berusaha menghindari serangan balasan Iran terhadap wilayah, fasilitas energi, maupun jalur perdagangan mereka. Ancaman terhadap infrastruktur energi menjadi perhatian serius karena sejumlah negara Teluk memiliki fasilitas minyak dan gas yang sangat penting bagi perekonomian regional. Apabila konflik meluas ke fasilitas tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang menjadi sasaran, tetapi juga dapat memengaruhi pasokan energi dunia. Karena itu, negara-negara di kawasan memiliki kepentingan besar untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Peringatan Iran kepada negara-negara Teluk menunjukkan bahwa konflik dengan Amerika Serikat kini memiliki dampak yang semakin luas terhadap keamanan kawasan. Tehran berusaha mencegah penggunaan pangkalan dan fasilitas regional untuk mendukung operasi militer Washington, sementara Amerika Serikat terus mempertahankan tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran. Dalam situasi seperti ini, keputusan negara-negara Teluk akan menjadi sangat menentukan karena setiap bentuk dukungan kepada salah satu pihak berpotensi memengaruhi respons pihak lainnya. Selat Hormuz, pangkalan militer, fasilitas energi, dan jalur perdagangan menjadi titik-titik yang sangat sensitif dalam perkembangan konflik. Jika tidak terdapat langkah diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, peringatan Iran tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Teluk sekaligus memperbesar risiko konflik meluas ke wilayah yang sebelumnya berusaha mempertahankan jarak dari perang.