Jakarta, 3 Mei 2026 – Presiden Donald Trump mengungkapkan keraguannya terhadap proposal terbaru yang diajukan Iran dalam upaya meredakan konflik antara kedua negara. Pernyataan tersebut memunculkan kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan menolak tawaran tersebut.
Trump menyebut bahwa isi proposal yang diajukan Iran belum memenuhi harapan Washington. Ia bahkan menyatakan “tidak puas” dengan tawaran tersebut dan meragukan apakah proposal itu layak diterima sebagai dasar kesepakatan damai.
Sejumlah laporan juga menyebut bahwa proposal Iran berisi berbagai poin, termasuk permintaan pencabutan sanksi, penghentian blokade, serta penundaan pembahasan isu nuklir. Namun, pendekatan tersebut dinilai tidak sejalan dengan tuntutan Amerika Serikat yang menginginkan pembatasan program nuklir menjadi prioritas utama.
Trump juga menilai bahwa Iran belum menunjukkan langkah signifikan yang dapat meyakinkan pihaknya untuk menyetujui kesepakatan. Ia bahkan menyebut bahwa Iran “belum membayar harga yang cukup” atas tindakan sebelumnya, sehingga negosiasi masih menemui jalan terjal.
Di tengah kebuntuan ini, opsi lain masih terbuka. Trump menegaskan bahwa selain jalur diplomasi, kemungkinan tindakan militer tetap menjadi pertimbangan jika situasi tidak membaik.
Para pengamat menilai bahwa sikap keras dari kedua pihak memperlihatkan kompleksitas konflik yang belum menemukan titik temu. Perbedaan kepentingan terkait isu nuklir, sanksi ekonomi, dan keamanan kawasan menjadi faktor utama yang menghambat tercapainya kesepakatan.
Di sisi lain, komunitas internasional mendorong kedua negara untuk tetap melanjutkan dialog guna menghindari eskalasi konflik yang lebih luas. Stabilitas kawasan Timur Tengah serta dampak terhadap ekonomi global menjadi perhatian utama.
Dengan situasi yang masih belum pasti, masa depan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berada di titik kritis. Keputusan akhir terkait proposal tersebut diperkirakan akan sangat menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.