Karangasem, 8 Oktober 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Karangasem, Bali, melalui pelaksanaan program Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah mereka. Penguatan kesiapsiagaan dilakukan dengan mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengenali risiko, menyusun langkah pencegahan, serta memahami prosedur penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat. Karangasem menjadi wilayah yang membutuhkan perhatian dalam pengurangan risiko bencana karena memiliki karakteristik geografis yang mencakup kawasan pegunungan, permukiman, dan pesisir. Melalui program DESTANA, masyarakat diharapkan mampu membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Program Desa Tangguh Bencana merupakan pendekatan pengurangan risiko bencana yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses kesiapsiagaan dan penanganan keadaan darurat. Melalui program tersebut, warga didorong untuk memahami ancaman bencana yang terdapat di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Kegiatan penguatan kapasitas dapat mencakup edukasi kebencanaan, pemetaan wilayah rawan, penyusunan rencana evakuasi, serta pembentukan kelompok relawan. Pendekatan berbasis masyarakat dinilai penting karena warga setempat merupakan pihak yang paling dekat dengan lokasi ketika bencana terjadi. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, masyarakat dapat melakukan tindakan awal untuk melindungi diri dan membantu kelompok rentan sebelum dukungan dari petugas tiba.
Kabupaten Karangasem memiliki sejumlah potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi melalui perencanaan dan kesiapsiagaan yang baik. Keberadaan Gunung Agung menjadi salah satu faktor geografis yang memerlukan perhatian terhadap aktivitas vulkanik dan kemungkinan dampaknya bagi masyarakat sekitar. Selain ancaman erupsi gunung api, beberapa wilayah Karangasem juga memiliki kerentanan terhadap tanah longsor, banjir, gempa bumi, dan kondisi cuaca ekstrem. Tingkat risiko setiap kawasan dapat berbeda bergantung pada kondisi topografi, kepadatan permukiman, serta karakteristik lingkungan. Oleh karena itu, pemetaan risiko secara terperinci menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pengurangan risiko bencana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
BNPB mendorong agar pelaksanaan DESTANA tidak hanya berfokus pada kegiatan sosialisasi, tetapi juga menghasilkan kemampuan praktis yang dapat diterapkan masyarakat. Salah satu aspek penting adalah pemahaman mengenai jalur evakuasi, lokasi berkumpul yang aman, serta mekanisme penyampaian informasi ketika terjadi ancaman bencana. Masyarakat juga perlu mengetahui cara membantu anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan kelompok lain yang membutuhkan pendampingan khusus. Simulasi kebencanaan dapat menjadi sarana untuk menguji kesiapan warga sekaligus mengidentifikasi kelemahan dalam rencana penanganan darurat. Dengan latihan yang dilakukan secara berkala, masyarakat diharapkan dapat bertindak lebih cepat dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi yang membahayakan keselamatan.
Pelaksanaan program DESTANA membutuhkan kerja sama antara BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah desa, dan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah desa memiliki peranan penting dalam mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan serta kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, BPBD dapat memberikan pendampingan teknis mengenai identifikasi ancaman, prosedur evakuasi, dan penguatan sistem peringatan dini. Keterlibatan tokoh masyarakat, kelompok pemuda, organisasi perempuan, serta relawan juga diperlukan agar informasi kebencanaan dapat menjangkau seluruh lapisan warga. Koordinasi yang baik diharapkan mampu menciptakan sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif dan tidak hanya bergantung pada respons pemerintah setelah kejadian.
Selain kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, program Desa Tangguh Bencana juga memiliki hubungan dengan upaya menjaga keberlanjutan pembangunan desa. Bencana alam dapat menimbulkan kerusakan terhadap rumah, fasilitas pendidikan, sarana kesehatan, lahan pertanian, serta infrastruktur yang menunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Apabila risiko tidak dikelola dengan baik, dampak bencana dapat menghambat kegiatan pembangunan dan meningkatkan kerentanan sosial ekonomi warga. Oleh karena itu, pengurangan risiko perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam pembangunan fasilitas umum dan pengelolaan lingkungan. Langkah pencegahan yang dilakukan sejak dini dapat membantu mengurangi potensi kerugian sekaligus mempercepat pemulihan ketika bencana benar-benar terjadi.
Penguatan kesiapsiagaan masyarakat Karangasem juga perlu didukung pemanfaatan informasi kebencanaan yang akurat dan mudah dipahami. Masyarakat dapat menggunakan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api, kondisi cuaca, serta peringatan dini untuk menentukan tindakan yang sesuai. Namun, informasi tersebut perlu disampaikan melalui saluran komunikasi yang dapat menjangkau warga, termasuk masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses teknologi. Penggunaan sistem komunikasi komunitas dan koordinasi antarrelawan dapat membantu mempercepat penyebaran peringatan kepada masyarakat. Edukasi mengenai cara mengenali informasi yang benar juga penting untuk mengurangi penyebaran kabar tidak akurat yang berpotensi menimbulkan kebingungan ketika terjadi keadaan darurat.
Melalui penguatan program DESTANA di Kabupaten Karangasem, BNPB berharap masyarakat memiliki kemampuan yang semakin baik dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Keberhasilan program tersebut membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah, pemerintah desa, dan seluruh unsur masyarakat. Kegiatan pelatihan, pemetaan risiko, serta simulasi perlu terus dikembangkan agar pengetahuan kebencanaan tidak berhenti pada satu periode pelaksanaan. Penguatan kapasitas masyarakat juga diharapkan mampu menumbuhkan budaya sadar bencana yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kesiapsiagaan yang terencana dan partisipasi aktif warga, Karangasem diharapkan dapat meningkatkan ketangguhan wilayah sekaligus meminimalkan dampak bencana terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.