Jakarta, 28 Mei 2026 – Setelah mengalami pemadaman internet nasional selama 88 hari, warga Iran akhirnya mulai kembali mendapatkan akses ke jaringan global secara bertahap. Kembalinya akses internet tersebut langsung memicu ledakan aktivitas di media sosial, dengan banyak warga membagikan curhatan, rasa lega, kemarahan, hingga kisah kehilangan yang mereka alami selama masa isolasi digital. Pemadaman internet di Iran disebut sebagai salah satu yang terpanjang dalam sejarah modern dan terjadi di tengah situasi konflik, protes, serta ketegangan politik di negara tersebut. Banyak warga mengaku baru bisa kembali berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan dunia luar setelah hampir tiga bulan hidup dalam keterbatasan informasi.
Begitu akses internet mulai pulih, media sosial langsung dipenuhi unggahan emosional dari warga Iran. Sebagian membagikan rasa syukur karena akhirnya dapat mengetahui kabar keluarga yang terpisah komunikasi selama berminggu-minggu. Namun tidak sedikit pula yang menuliskan kemarahan dan kesedihan setelah melihat berbagai foto, video, dan berita yang sebelumnya tidak dapat mereka akses selama pemadaman berlangsung. Banyak warga menyebut momen kembali online bukan sekadar soal internet, tetapi juga tentang terbukanya kembali hubungan mereka dengan dunia luar setelah lama terisolasi.
Pemadaman internet tersebut sebelumnya dilakukan pemerintah Iran di tengah gelombang protes dan meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat serta Israel. Organisasi pemantau internet NetBlocks menyebut tingkat konektivitas Iran sempat turun hingga hanya sekitar 1–4 persen dari kondisi normal. Dampaknya sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama pelaku usaha digital, pekerja daring, hingga keluarga yang tidak bisa berkomunikasi dengan kerabat di luar negeri. Banyak bisnis online dilaporkan lumpuh total selama periode pemadaman berlangsung dan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai puluhan juta dolar per hari.
Meski internet mulai kembali aktif, akses di Iran disebut masih belum sepenuhnya normal. Sejumlah platform media sosial dan layanan pesan instan seperti WhatsApp masih mengalami pembatasan dan membutuhkan VPN untuk diakses. Banyak warga juga mengaku koneksi masih lambat dan tidak stabil, sehingga muncul kekhawatiran bahwa pemerintah sewaktu-waktu dapat kembali memberlakukan pembatasan baru. Sebagian masyarakat bahkan menyebut apa yang terjadi sekarang belum bisa dianggap sebagai “kebebasan internet” sepenuhnya karena kontrol pemerintah terhadap akses digital masih sangat kuat.
Kembalinya akses internet setelah 88 hari akhirnya menjadi momen emosional bagi banyak warga Iran yang selama ini hidup dalam ketidakpastian dan keterbatasan informasi. Media sosial kini berubah menjadi ruang pelampiasan emosi kolektif masyarakat yang ingin menceritakan pengalaman mereka selama masa blackout berlangsung. Dari cerita kehilangan pekerjaan, kesulitan menghubungi keluarga, hingga rasa trauma akibat situasi konflik dan tekanan sosial, semuanya mulai bermunculan di berbagai platform digital. Peristiwa ini juga kembali menunjukkan betapa pentingnya akses internet dalam kehidupan modern, bukan hanya untuk komunikasi, tetapi juga bagi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan mental masyarakat.