Jakarta, 27 Mei 2026 – Sebanyak 34 persen warga di Pangandaran tercatat belum memiliki pekerjaan atau masuk kategori belum bekerja. Angka tersebut disebut menjadi kelompok terbesar dibanding profesi lain dalam data ketenagakerjaan daerah setempat. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah dan pengamat ekonomi karena menunjukkan tantangan besar dalam penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat. Pangandaran yang dikenal sebagai daerah wisata dinilai masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap sektor tertentu sehingga peluang kerja belum tersebar merata. Situasi tersebut juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan perubahan pola usaha di masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut data pemerintah daerah, kelompok belum bekerja didominasi usia produktif yang sebagian masih mencari pekerjaan maupun baru lulus pendidikan. Selain faktor terbatasnya lapangan kerja formal, sebagian masyarakat juga bekerja secara musiman terutama di sektor pariwisata dan usaha kecil sehingga tidak tercatat memiliki pekerjaan tetap. Pemerintah daerah menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang perlu diatasi melalui peningkatan investasi, pelatihan keterampilan, dan pengembangan sektor ekonomi baru. Pangandaran selama ini memang sangat bergantung pada sektor wisata yang aktivitasnya dapat berubah tergantung musim dan kondisi ekonomi. Karena itu, diversifikasi ekonomi dianggap penting untuk memperluas peluang kerja masyarakat.
Pengamat ekonomi daerah menilai tingginya angka warga belum bekerja menunjukkan perlunya penguatan sektor produktif di luar pariwisata. Meski wisata menjadi tulang punggung ekonomi Pangandaran, ketergantungan berlebihan terhadap satu sektor dapat membuat pasar kerja menjadi kurang stabil. Pengembangan usaha mikro, pertanian modern, perikanan, ekonomi kreatif, dan sektor digital disebut memiliki potensi membantu menciptakan lapangan kerja baru di daerah. Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja juga dianggap penting agar masyarakat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Tanpa penguatan sumber daya manusia, peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi dinilai tidak akan optimal menyerap tenaga kerja lokal.
Di sisi lain, pemerintah daerah disebut mulai mendorong berbagai program pemberdayaan ekonomi dan pelatihan kerja bagi masyarakat usia produktif. Program tersebut mencakup pelatihan kewirausahaan, pengembangan UMKM, hingga peningkatan keterampilan berbasis sektor pariwisata dan digital. Pengamat sosial menilai tingginya jumlah warga belum bekerja dapat berdampak pada kondisi sosial masyarakat apabila tidak segera ditangani secara serius. Selain persoalan ekonomi keluarga, pengangguran berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan kerentanan sosial di masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan dinilai penting untuk memperluas kesempatan kerja di daerah.
Data mengenai 34 persen warga Pangandaran yang belum bekerja kini menjadi perhatian banyak pihak dan memunculkan diskusi mengenai strategi pembangunan ekonomi daerah. Masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan lebih banyak peluang kerja dan investasi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara berkelanjutan. Di tengah persaingan ekonomi yang semakin dinamis, penguatan keterampilan dan diversifikasi sektor usaha dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan pengembangan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan, Pangandaran diharapkan tidak hanya berkembang sebagai daerah wisata, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas bagi warganya.